Ayah Dalam Kenangan

Aku terbangun dari tidurku. Kulirik sebelah kananku, masih ada adikku yang terlelap, tetapi ini bukan Rumah Sakit. Ini bukan lantai dingin Rumah Sakit yang beralaskan tikar, ini bukan tas milik ibuku yang kujadikan bantal dan ini juga bukan koridor Rumah Sakit tempatku tidur beberapa hari terakhir, melainkan ini kamarku yang akhir-akhir ini tak kulihat. Suara lantunan surat Yasiin menghentikan pikiranku. Suara kalam Allah itu terdengar semakin jelas di telingaku. Bukan hanya satu suara tetapi banyak. Suara-suara itu tidak seperti alunan indah dihatiku. Melainkan suara perih yang menggores jantungku.

 

Aku beranjak meninggalkan tempat tidurku dan perlahan air mata mengalir ke pipiku ketika melihat ayahku telah tiada. Ya.. setelah adzan subuh ayahku menghembuskan nafas terakhirnya. Suara tangis ibuku seperti tamparan tak terlihat yang membuat perih mataku. Ibu duduk di lantai, disisi ayahku menyebut nama Allah sambil terus menangis. Aku melangkahkan kakiku yang mulai berat, mendekat ke sisi ranjang ayahku dan disanalah ayahku terbaring dalam diamnya dengan senyum penuh kedamaian menghias wajahnya. Aku menggenggam tangan ayah yang masih hangat. Memanggilnya berkali-kali memastikan bahwa ini bukan candaan yang biasa dilakukannya. Sementara itu adikku perlahan bangun. Adikku yang masih kecil hanya bisa diam melihat air mata bercucuran diwajah orang-orang disekitarnya.

 

Tetangga dan kerabat jauh mulai berdatangan . ada wajah yang ku kenal dan lebih banyak wajah yang tidak ku kenal. Satu persatu mereka mengungkapkan rasa bela sungkawanya. Menyalami ibuku, menepuk bahuku dan membelai rambut adikku. Sejujurnya aku tak suka dengan posisi ini. Posisi kehilangan dan dikasihani banyak orang membuat air mataku tak henti-hentinya mengalir. “ ya Allah sis.. kenapa nggak aku dulu? Kenapa kamu pergi duluan?” kata kakak tertua ayahku sambil menciumi wajah ayahku. Suara pamanku membuat mataku memanas. Ayahku yang gagah, yang tidak pernah bercerita tentang rasa sakitnya, yang tidak pernah mengeluh tentang beratnya kehidupan telah terbaring kaku, tak bergerak, tak juga bernafas. Inilah yang mengejutkan semua orang termasuk aku.

 

Ayahku yang sering dianggap kasar karena sika tegasnya. Ayahku yang sering dianggap tidak bisa bermasyarakat karena sikap pendiamnya telah pergi meninggalkan secuil misteri. Bagaimana seseorang yang kasar bisa mendidik keluarganya dengan baik dan bagaimana mungkin seseorang yang di cap tidak bisa bermasyarakat bisa memiliki teman yang turut bersedih dan mengantarkannya ke peristirahatan terakhir layaknya seorang pejabat??

 

Siang hari tepatnya pukul 14.00, prosesi pemakaman dilakukan. “Allahuakbar..Allahuakbar.. Lailahaillallah..” sayup-sayup terdengar suara adzan yang dikumandangkan pamanku. Pamanku perlahan keluar dari lubang kubur ayahku. Dia menuntunku dan adikku untuk mendekat. Tanah merah mulai berjatuhan ke lubang kubur. “ucapkan selamat tinggal” ibuku bekata kepadaku dan adikku dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ibuku maju lebih dulu untuk menaburkan bunga dan mengucap salam perpisahan untuk suami tercinta dan hanya Allah yang mendengarnya.

 

Siang itu, aku dan adikku yang resmi menjadi yatim dipinta untuk melepas kepergian ayah ke dunia yang lebih kekal. Usai pemakaman, kamipun pulang kerumah. Aku menuntun ibu dan adikku ke jalan setapak menuju dunia baru. Dunia baru tanpa ayahku di dalamnya. Dunia baru yang lebih sunyi, yang hanya ada aku, ibuku, adikku dan Allah sebagai pelindung kami.

 

Malam hari pun  tiba. Suara tahlil mengiringi kesedihanku. Para tetangga berdatangan untuk mendoakan ayahku. Aku hanya terdiam di kamar sambil memeluk foto ayahku. Aku masih berharap semua kehilangan ini hanyalah mimpi. Aku masih berharap ayahku bangun dari tidurnya. Aku masih berharap bahwa akan ada lagi hari-hari seperti kemarin. Malam ini hanyalah malam yang sepi tanpa ayah. Tidak ada lagi keceriaan, awan gelap menyelimuti rumahku dan memaksaku untuk menerima kenyataan pahit ini.

 

Pagi hari, setelah seminggu ayah meninggalkanku. Tidak ada lagi kerabat yang menginap dii rumahku dan tidak ada lagi tetangga datang yang menemani kami. Namun, inilah hidup baruku, hidup baru yang hanya ada ibu dan adikku bersama Allah sebagai pelindung kami. Adikku memandang televisi “lucu kak” ucapnya kepadaku. Aku tersenyum memandangnya, begitu juga dengan ibu. Kami belum bisa melupakan kepergian ayah. Kami belum terbiasa tanpa ayah disamping kami, tetapi kami sudah belajar mengikhlaskannya dan belajar untuk tersenyum dan kembali melanjutkan hidup.

 

Rumah tanpa kehadiran ayah adalah sesuatu yang asing bagi kami, tidak ada hari yang indah dengan sosok ayah didalamnya. Tetapi inilah kehidupan yang harus kami jalani. Dengan Allah disisi kami, kami yang masih hidup harus tetap menyongsong pagi baru. Pagi yang penuh rasa syukur kepada Allah dan cinta kasih kepada sesama.  Tugasku sekarang adalah membuat bangga ayahku yang telah tiada, membahagiakan ibuku yang masih ada dan melindungi adikku satu-satunya. Karena aku dan semua orang tidak pernah tau kapan Allah akan mengambil kembali apa-apa yang Dia titipkan disekitar kita. Tugas kita adalah senantiasa melakukan yang terbaik bagi titipan-Nya dan senantiasa ikhlas jika Dia mengambilnya.

by; dina agustina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s