Ayah Dalam Kenangan

Aku terbangun dari tidurku. Kulirik sebelah kananku, masih ada adikku yang terlelap, tetapi ini bukan Rumah Sakit. Ini bukan lantai dingin Rumah Sakit yang beralaskan tikar, ini bukan tas milik ibuku yang kujadikan bantal dan ini juga bukan koridor Rumah Sakit tempatku tidur beberapa hari terakhir, melainkan ini kamarku yang akhir-akhir ini tak kulihat. Suara lantunan surat Yasiin menghentikan pikiranku. Suara kalam Allah itu terdengar semakin jelas di telingaku. Bukan hanya satu suara tetapi banyak. Suara-suara itu tidak seperti alunan indah dihatiku. Melainkan suara perih yang menggores jantungku.

 

Aku beranjak meninggalkan tempat tidurku dan perlahan air mata mengalir ke pipiku ketika melihat ayahku telah tiada. Ya.. Continue reading

Advertisements